Kamis, 09 April 2009

Jagung

Jagung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

?

Jagung

Jagung

Klasifikasi ilmiah

Spesies

Zea mays L.

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

[sunting] Biologi jagung

Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu[1]. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.

[sunting] Deskripsi

Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.

Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.

Jagung hibrida di ladang.

Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.

Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.

Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).

Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.

[sunting] Kandungan gizi

Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.



Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung"

Kategori: Poaceae | Serealia | Tumbuhan berbiji

Dedak padi

Dedak padi termasuk salah satu limbah pertanian yang berpotensi sebagai bahan baku industri pakan dan pangan. Ketersediaan dedak di Indonesia cukup tinggi, yaitu berkisar 4.8 juta ton per tahun. Selain sebagai pakan ternak, dedak berpotensi sebagai bahan pangan karena mengandung pati dan minyak, serta sebagai bioproses karena mengandung lipase. Oleh karena itu, perlu kajian yang dapat meningkatkan mutu dan daya guna dedak melalui penerapan teknologi sederhana dan tepat guna. Tujuan penelitian ini ialah melakukan fraksinasi dan analisis proksimat hasil fraksinasi limbah dedak padi, mengkaji faktor yang berpengaruh terhadap produksi β-karoten, menentukan kondisi optimum untuk memproduksi pengemulsi monoasil gliserol (MAG) dan diasil gliserol (DAG) minyak dedak padi, dan mengkaji faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu tepung hasil pengolahan dedak dan aplikasinya pada pembuatan biskuit dan roti.

Dari penelitian ini ditemukan komposisi ransum ayam potong yang mengandung provitamin A hasil fermentasi dedak (fraksi I) yang cenderung mengurangi pembentukan lemak abdominal. Penggunaan dedak sebagai pakan unggas dapat diaplikasikan melalui fraksinasi (pengurangan serat kasar) dan fermentasi dengan cendawan oncom merah (peningkatan provitamin A). Hasil penelitian ini juga memberikan informasi tentang kondisi reaksi pembentukan MAG dan DAG serta waktu reaksi yang optimum. MAG dan DAG ialah senyawa turunan lemak atau minyak yang mempunyai fungsi sebagai bahan pengemulsi, aman digunakan untuk pangan, kosmetik, dan obat-obatan sehingga mempunyai prospek yang cerah. MAG dan DAG pada penelitian ini disintesis secara enzimatis, yaitu lipase sebagai biokatalis yang terdapat pada sekam (dedak fraksi III). Kondisi reaksi yang optimum untuk memperoleh kandungan MAG dan DAG yang tinggi ialah pada nisbah dedak fraksi III:gliserol:minyak:heksana ialah 10:1:2:50 dengan kondisi suhu 37°C dan pH 7.0 serta lama waktu reaksi 103 jam. Rendemen campuran MAG dan DAG yang diperoleh sekitar 90% kotor dengan menggunakan reaktor berkapasitas 10 liter.

Dari penelitian ini juga diperoleh tepung rendah lemak dan tinggi protein hasil pengolahan dedak fraksi II. Rendemen tepung rendah lemak dan tinggi protein terdiri atas tepung endapan 34% dan tepung dekantasi 60% yang diperoleh dari dedak fraksi II (tepung). Tepung rendah lemak dan tinggi protein digunakan pada pembuatan biskuit dan roti. Pada pembuatan biskuit dan roti tepung rendah lemak dan tinggi protein dapat mensubstitusi tepung terigu sampai 20%.

Adopted from Hibah Bersaing VIII

DEDAK PADI MENINGKATKAN JUMLAH DAN MUTU SUSU SAPI HISSAR SUMBAWA

DEDAK PADI MENINGKATKAN JUMLAH DAN MUTU SUSU SAPI HISSAR SUMBAWA

S.H. Dilaga

Jurusan Ilmu Nutrisi & Makanan Ternak Fapet Unram

dan

Pusat Pengkajian & Informasi Sapi Hissar (PUNJAHI) Fapet Unram

Jl. Majapahit 62 Mataram 83125 NTB

ABSTRAK

Informasi tentang berapa produksi air susu sapi Hissar apabila diberi pakan dedak padi, belum ada. Padahal air susu sapi tersebut diperah untuk mendapatkan uang tunai /dijual ke Kelompok Usaha Bersama (KUB, yang beranggotakan para wanita) sebagai bahan baku pembuatan permen susu (caramel) khas Sumbawa yang sangat digemari masyarakat Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu (1). mempelajari dampak pemberian dedak padi terhadap produksi susu sapi Hissar yang digembalakan, dan (2). mempelajari dampak pemberian dedak padi terhadap jumlah dan mutu air susu sapi Hissar yang dikandangkan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa, pemberian 0.5 kg dedak padi dalam ransum mampu meningkatkan rataan produksi susu sapi Hissar yang digembalakan (2400 ml vs 2600 ml) maupun yang dikandangkan (1300 ml vs 3200 ml). Selain itu, penambahan dedak padi sebesar 0.5 kg dalam pakan meningkatkan konsumsi pakan ( 139.2 vs 161.9 g BK/Kg B.75 /hari), konsumsi zat-zat makanan, konsumsi air minum (36.0 vs 42.0 liter/ekor/hari), serta kadar lemak (4.2 vs 5.8%) yang merupakan indikator mutu air susu.

Kata kunci : Sapi Hissar, mutu susu, caramel

LATAR BELAKANG

Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan Sapi Hissar dari Punjab India pertama kali ke Indonesia pada tahun 1909, ditempatkan di tiga lokasi yaitu Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Sumbawa. Sampai saat ini hanya di Pulau Sumbawa sapi ini bertumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga sejak tahun 1999 pemerintah menetapkan Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa sebagai kawasan pengemban sapi Hissar nasional. Sapi ini dikenal sebagai sapi Hissar Sumbawa (Dilaga dan Arman, 2002 ), diperah susunya dan dijual ke Kelompok Usaha Bersama (KUB, anggotanya ibu-ibu), untuk diolah menjadi permen susu (caramel) khas Sumbawa yang sangat digemari masyarakat Nusa Tenggara Barat (Dilaga, 2001). Produksi susunya tidak sebanyak sapi FH, karena sapi Hissar merupakan sapi multiguna (penghasil susu, daging, dan tenaga kerja), dan seleksi kearah produksi susu memang belum dilakukan (Dilaga, et al., 2001). Berapa jumlah air susu yang diperoleh peternak dari seekor sapi Hissar? Apabila diberikan tambahan pakan berupa dedak padi, seberapa besar peningkatan jumlah maupun mutu susu sapi Hissar Sumbawa yang dapat dihasilkan? Data/informasi tentang hal itu tidak ada, dan untuk itulah penelitian ini dilakukan.

MATERI DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa, dan dilaksanakan dalam 2 tahap sebagai berikut.

Tahap I: Dampak Pemberian Dedak Padi Terhadap Produksi Susu Sapi Hissar yang Digembalakan Sepanjang Hari

Empat ekor sapi Hissar Sumbawa dengan kisaran bobot badan 290 – 300 kg, beranak 2 kali, dan sudah berproduksi selama 4 bulan digunakan dalam penelitian ini. Setiap perlakuan terdiri atas 2 ekor sapi laktasi. Perlakuan yang diberikan adalah:

a. Pakan A = kontrol, yaitu sapi merumput sendiri di pastura (lar, bahasa Sumbawa).

b. Pakan B = Pakan A + 0.5 kg dedak padi.

Sapi yang mendapatkan perlakuan B terlebih dahulu dilatih mengkonsumsi dedak sebanyak 0.5 kg. Setelah dapat menghabiskan 0.5 kg dedak, barulah pengumpulan data dilakukan. Pemerahan dilakukan pagi hari. Cara pemerahan dan pemerahnya adalah sama pada semua ternak percobaan. Peubah yang diamati adalah jumlah air susu yang dihasilkan. Produksi susu dicatat, kemudian ditabulasi dan dilakukan analisis data dengan pendekatan eksploratif menggunakan diagram dahan-daun (steam and leaf plot) dan diagram kotak-garis (box and whisker plot) sebagaimana yang dikemukakan oleh Aunuddin (1988).

Tahap II: Dampak Pemberian Dedak Padi Terhadap Jumlah dan Mutu Susu Sapi Hissar yang Dikandangkan

Penelitian menggunakan 4 ekor sapi Hissar betina, stadia laktasi ke IV dengan bobot badan berturut-turut 296, 314, 315, dan 336 kg dan umur pedet 4 bulan. Keempat sapi tersebut ditempatkan dalam kandang untuk memudahkan pemberian pakan dan pemerahan. Pemerahan dilakukan pagi hari. Cara pemerahan dan pemerahnya adalah sama pada semua ternak percobaan. Adapun perlakuan yang diberikan adalah:

1. Pakan A = rumput padang penggembalaan, jerami padi, dan jerami kacang ijo. Pakan tersebut merupakan pakan yang umum diberikan oleh peternak kepada sapinya dalam kondisi pemeliharaan tradisional.

2. Pakan B = Pakan A + 0.5 kg dedak halus padi. Sapi yang mendapatkan perlakuan ini terlebih dahulu dilatih mengkonsumsi dedak sebanyak 0.5 kg. Setelah dapat menghabiskan 0.5 kg dedak, barulah pengumpulan data dilakukan.

Pertimbangan dilakukan perlakuan di atas adalah bahwa pada pemeliharaan seadanya (pakan A, pada penelitian Tahap I dan II), sapi Hissar mampu berproduksi, apalagi kalau mutu pakannya sedikit ditingkatkan (diberi dedak padi), tentu produksi susunya meningkat. Adapun susunan pakan penelitian Tahap II disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Susunan Pakan Penelitian Tahap II

No

Bahan Pakan

A

B

1

Rumput padang penggembalaan, %

60.0

56.0

2

Jerami padi, %

19.5

19.0

3

Jerami kacang ijo, %

20.5

19.7

4

Dedak halus padi, %

-

5.3

J U M L A H

100.0

100.0

Bahan Kering (BK), %

34.7

35.6

TDN (energi), %

58.0

66.9

Protein Kasar (PK), %

7.2

8.8

Serat Kasar (SK), %

33.5

35.2

Peubah yang diamati meliputi konsumsi pakan, konsumsi air minum, produksi susu, dan kadar lemak (penanda mutu susu). Data yang terkumpul ditabulasi dan dihitung rataannya untuk kemudian dibahas secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Dampak Pemberian Dedak Padi Terhadap Produksi Susu Sapi Hissar yang Digembalakan

Hasil penelitian produksi susu sapi Hissar yang digembalakan di lar disajikan menggunakan diagram dahan-daun atau steam and leaf plot (S = steam = melambangkan satuan, dan L = leaf = melambangkan angka di belakang koma, dengan ketentuan: titik . untuk 0-4 dan bintang * untuk 5-9) sebagai berikut.

Diagram dahan-daun (SL) produksi susu sapi Hissar yang mendapat pakan –A (merumput di lar).

SL - Pakan A

1.

*6688

2.00000011111111222222222222222333333333333333333444444444444444

*555555555566666666777777777778888

3.00000022224444444

Diagram dahan-daun (SL) produksi susu sapi Hissar yang mendapat pakan –B (merum-put di lar + 0.5 kg dedak padi).

SL - Pakan B

2.00011111111222222222222222233333333333333444444444

*555555666666666666666666999

3.000000000000222333334444

*66666666667777

Tampak pada diagram dahan-daun (SL) bahwa rataan produksi susu terendah dari sapi Hissar yang diberi pakan A= 1600 ml dan pakan B= 2000 ml, sedangkan tertinggi berturut-turut pakan A = 3400 ml dan pakan B = 3700 ml. Data tersebut kalau disarikan kedalam ringkasan 5 angka dan 3 angka, akan diperoleh data seperti disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Ringkasan 5 Angka dan 3 Angka untuk Produksi Susu Sapi Hissar yang Diberi Pakan A dan B.

Pakan A

Pakan B

Ringkasan 5 Angka

Ringkasan 3 Angka

Ringkasan 5 Angka

Ringkasan 3 Angka

Me = 2400

2400

Me = 2600

2600

K1 = 2250 K3 = 2700

2475

K1 = 2300 K3 = 3600

2950

K = 1600 b = 3400

2500

K = 2000 b = 3700

2850

Keterangan: Pakan A = merumput di Lar , Pakan B = merumput di Lar + dedak padi

Me = median = nilai tengah produksi susu sapi Hissar

K1 = kwartil 1= seperempat bagian (25%) dari nilai tengah produksi susu sapi Hissar

K3=kwartil 3= tigaperempat bagian (75%) nilai tengah produksi susu sapi Hissar

k= nilai produksi susu terendah, dan b= nilai produksi susu tertinggi

Berdasarkan data pada Tabel 2, jika dibuat diagram kotak garis, diperoleh diagram kotak-garis (box and whisker plot) seperti pada Gambar 1. Tampak pada Gambar 1 bahwa, pemberian dedak padi meningkatkan produksi susu sapi Hissar yang digembalakan sepanjang hari untuk segala perbandingan, baik untuk produksi susu terendah (k), produksi susu tertinggi (b), seperempat bagian (25%) dari nilai tengah produksi susu (k1), tigaperempat bagian (75%) nilai tengah produksi susu (k3), maupun nilai tengah produksi susu sapi Hissar (Me).

Produksi susu (ml)

3700 ………………………………………………………b

3600 ………………………………………… .........k3

3500

3400 …………………….......b

3300

3200

3100

3000

2900

2800

2700 ………….. ......k3

2600 …………………………………………… .........Me

2500

2400 …………… . ......Me

2300 ………………………………………….. ….....k1

2250 …………. . ......k1

2200

2100

2000 ………………………………………………………..k

1900

1800

1700

1600 …………………….k

PAKAN-A PAKAN-B

Gambar 1. Diagram Kotak Garis Produksi Susu Sapi Hissar yang digembalakan

Sapi Hissar dapat diperah susunya selama enam bulan. Penelitian ini dimulai pada bulan laktasi keempat, sehingga praktis sapi percobaan hanya dapat diperah sekitar dua bulan, dan produksinya sudah berkurang.

Data produksi susu dikumpulkan selama 58 hari untuk memberikan kesempatan kepada sapi tersebut mempersiapkan diri menghadapi siklus reproduksi berikutnya. Hal yang menarik adalah bahwa, sapi Hissar mempunyai persistensi laktasi yang cukup baik, terbukti dari peningkatan rataan produksi sebesar 200 ml pada akhir masa laktasinya akibat pemberian dedak padi.

B. Dampak Pemberian Dedak Padi Terhadap Jumlah dan Mutu Susu Sapi Hissar yang Dikandangkan

Tabel 3 menunjukkan hasil penelitian yang diperoleh. Tampak pada Tabel 3 bahwa, penambahan dedak halus padi sebanyak 0.5 kg (Pakan B) meningkatkan konsumsi pakan dan hal ini tentu berdampak kepada konsumsi energi (TDN), protein (PK), dan serat (SK) juga meningkat sejalan dengan peningkatan kadarnya dalam pakan (Tabel 1).

Tabel 3. Konsumsi Pakan, Air Minum, Produksi, dan Mutu Susu Sapi Hissar.

No

Peubah

Pakan A

Pakan B

1.

Konsumsi Pakan, g BK/Kg B .75 /hari

139.2

161.9

2.

Konsumsi Energi, g TDN /Kg B .75 /hari

66.6

78.2

3.

Konsumsi Protein, g PK/Kg B .75 /hari

8.1

10.1

4.

Konsumsi Serat Kasar, g SK /Kg B .75 /hari

44.8

51.2

5.

Konsumsi Air Minum, liter/ekor /hari

36.0

42.0

6.

Produksi Susu, liter/ekor/hari

1.3 ± 0.2

3.2 ± 0.4

7.

Kadar Lemak, %

4.2 ± 1.9

5.8 ± 1.7

8.

Berat Jenis

1.03

1.03

9.

Efisiensi Penggunaan Energi/liter susu

51.2

24.4

10.

Efisiensi Penggunaan Protein/liter susu

6.2

3.2

Pada ruminansia, proses glukoneogenesis terutama berasal dari asam propionat dan asam amino. Sapi Hissar yang diberi pakan A (rumput padang penggembalaan serta limbah pertanian seperti jerami padi dan kacang ijo, bila dibandingkan dengan yang diberi pakan B selain mengandung rumput pastura dan jerami juga terdapat dedak halus padi yang merupakan bahan baku konsentrat, maka perbedaan bahan pakan ini dapat mempengaruhi komposisi atau proporsi asam lemak volatile (VFA) yang terbentuk pada fermentasi dalam rumen.

Bergman (1983) menyatakan bahwa, hanya sedikit glukosa yang diabsorpsi darah jika pakan yang dimakan adalah hay atau pakan kasar, akan tetapi jika yang dikonsumsi berupa biji-bijian atau konsentrat, maka sapi dan domba dapat mengabsorpsi cukup banyak glukosa. Demikian pula Preston dan Leng (1987) menyatakan bahwa, ransum yang banyak mengandung biji-bijian/konsentrat akan meningkatkan jumlah asam propionat pada fermentasi rumen serta cukup banyak pati yang lolos dan diserap sebagai glukosa. Hal ini mengisyaratkan bahwa, pemberian dedak padi (pakan B) dapat meningkatkan proporsi asam propionat, di samping itu juga dapat meningkatkan jumlah glukosa yang diabsorpsi, dan akhirnya meningkatkan produksi laktosa. Penanbahan produksi laktosa mempunyai pengaruh osmotik terhadap air susu yaitu menyebabkan terjadinya penambahan air kedalam kanal susu (Hegarty et al., 1996), sehingga produksi susu bertambah. Dengan demikian, sapi Hissar yang mengkonsumsi pakan B mendapat tambahan asam propionat dan glukosa, sehingga mengurangi pemakaian asam amino untuk proses glukoneogenesis.

Kadar serat kasar (SK) pakan yang mengandung dedak padi (pakan B) lebih tinggi dibanding pakan A (35.2 vs 33.5%), demikian pula dengan konsumsi pakan B oleh sapi Hissar laktasi lebih banyak daripada pakan A (51.2 vs 44.8 g SK /Kg B .75 /hari). Hal ini berdampak kepada produksi asetat akan naik, sehingga produksi lemak susu sapi yang mendapat pakan B meningkat 1.6% lebih tinggi dibanding yang diberi pakan A, karena asetat merupakan prekursor pembentukan lemak susu. Penjualan air susu di Desa Penyaring belum didasarkan pada kadar lemak, keadaan ini menguntungkan KUB pengolah permen susu, karena susu dengan kadar lemak tinggi menghasilkan rendemen caramel yang lebih banyak. Adapun berat jenis air susu sapi Hissar sama dengan berat jenis beberapa beberapa bangsa sapi dan masih dalam kisaran normal (1.00 - 1.03).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pemberian dedak padi sebesar 0.5 kg dalam ransum mampu meningkatkan rataan produksi susu sapi Hissar yang digembalakan (2400 ml vs 2600 ml) maupun yang dikandangkan (1300 ml vs 3200 ml).

2. Penambahan dedak padi sebesar 0.5 kg dalam pakan meningkatkan konsumsi pakan ( 139.2 vs 161.9 g BK/Kg B .75 /hari), konsumsi zat-zat makanan, konsumsi air minum (36.0 vs 42.0 liter/ekor/hari), serta kadar lemak (4.2 vs 5.8%).

3. Efisiensi penggunaan energi dan protein juga membaik akibat pemberian dedak padi yaitu untuk energi dari 51.2 menjadi 24.4 dan protein dari 6.2 menjadi 3.2.


Saran

Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan jumlah sapi lebih banyak dan dilakukan pada berbagai tingkat/stadia laktasi serta bulan laktasi. Demikian pula berapa besar produksi susu apabila pedet tidak disusui sama sekali oleh induknya, kecuali hanya diberikan kolostrum saja.

DAFTAR PUSTAKA

Aunuddin, 1988. Analisis Data dengan Pendekatan Eksploratif. Jurusan Statistika FMIPA-IPB, Bogor.

Bergman. 1983. The Pool of Cellular Nutrients. In Dynamic Biochemistry of Animal Production. Ed by: P.M. Riis. Elsevier Amsterdam.

Dilaga, S.H. 2001. Betenak Sapi Hissar. Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta.

Dilaga, S.H. dan C. Arman. 2002. Sapi Hissar Sumbawa, Potensi dan Peluang Pening-katan Produksinya. Makalah disampaikan dalam rangka ekspose sapi Hissar dengan Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa dan Instansi Terkait. Sumbawa Besar, 11 Maret 2002.

Dilaga, S.H., Hasyim, C. Arman, Lestari, dan M. Dahlik. 2001. Pengembangan Sapi Hissar di Wilayah Moyo Hilir Sumbawa. Laporan Penelitian Hibah Bersaing IX/1. Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas RI.

Dilaga, S.H., Hasyim, C. Arman, dan Lestari. 2002. Pengembangan Sapi Hissar di Wilayah Moyo Hilir Sumbawa. Laporan Penelitian Hibah Bersaing IX/2. Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas RI.

Hegarty, R., L. Godwin, and J. Nolan. 1996. Animal Metabolism, Digestion and Nutrition. Departement of Anim. Sci, UNE.

Preston, T.R. and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production System with Available Resources in the Tropics and Subtropics. Penambul Books. Armidale-NSW, Australia.